Kelas Jurnalistik Kominfo (Seri 4) : Memberi Makna Sebuah Berita

Ada doktrin penulisan berita yang bunyinya kurang lebih begini: anggap semua orang tidak pernah membaca berita kita sebelumnya. Hal ini untuk mengantisipasi agar setiap berita yang diterbitkan, tidak menimbulkan “omelan” pembaca karena dibuat bingung. Atau berita dengan cepat di-skip karena pembaca tidak mengerti konteksnya.

Berita yang paling kerap menjadi korban omelan dan skip dari pembaca adalah berita politik, hukum dan kriminal, yang sudah dibuat bersambung. Istilahnya running news. Seorang wartawan, karena saking fokusnya akan isu itu, menganggap pengetahuan pembaca sudah sama dengan pengetahuan yang dimilikinya.

Wartawannya berasumsi, semua orang membaca beritanya, sehingga tidak perlu lagi memberi pengulangan informasi terhadap berita lanjutannya. Faktanya, tidak semua pembaca mengikuti dari awal isu itu. Itulah sebabnya doktrin di atas seringkali dimunculkan dalam sesi-sesi pelatihan jurnalistik.

Menjawab persoalan ini, ada yang disebut dengan pemberian makna pada sebuah berita. Contoh, berita tentang kasus pembunuhan yang terjadi di Kolaka, beberapa waktu lalu. Atau tentang perseteruan antara putra Bupati Konawe Selatan dengan Ketua Partai Hanura Sulawesi Tenggara. Berita itu banyak dibaca orang. Tapi wartawannya tidak lantas berasumsi, semua orang sudah membacanya.

Pada berita bergenre hukum dan kriminal itu, ada media yang menurunkan berita lanjutannya dengan judul “Kasus Pembunuhan di Kolaka, Polisi: Jangan Ada Aksi Balas Menganiaya”. Sedangkan pada berita politik tadi menurunkan berita berjudul “Kubu Surunuddin: Bukan Mahar Politik, Tapi Penipuan dan Penggelapan Uang”.

Bagi pembaca yang baru mengikuti isu itu, dia akan mencari berita sebelumnya untuk menemukan maknanya. Bahkan pembaca dari luar Sultra yang tertarik membaca berita itu karena kebetulan sedang berkunjung ke Kendari, misalnya, barangkali akan terlebih dahulu mencari tahu dimana itu Kolaka.

Sedangkan pada berita politik, si pembaca tadi kemungkinan mengawali bacaannya dengan mencari tahu tentang “Surunuddin” yang tercantum dalam judul berita. Karenanya, wartawan harus telaten menyampaikan informasi sebelumnya. Itulah yang disebut dengan background atau latar belakang dalam sebuah berita. Informasi tersebut akan memberi makna bagi pembaca.

Penulisan latar belakang inilah yang juga membedakan ragam tulisan ilmiah dengan ragam tulisan popular, seperti berita. Pada tulisan ilmiah, latar belakang dibuat di awal tulisan. Sedangkan pada berita, latar belakang dibuat di akhir tulisan.

Pada sejumlah media online, mereka tidak lagi mencantumkan informasi sebelumnya dalam tubuh berita. Tapi memberi tautan berita sebelumnya pada berita lanjutannya dengan mencantumkan kata panduan “baca juga”. Teknik ini merupakan strategi bagi media online untuk meningkatkan rating beritanya. Itu yang pertama.

Pemberian makna yang kedua dimaksudkan agar pembaca merasa lebih dekat dengan berita yang dibacanya, baik secara geografis, psikologis, maupun psikografis. Sebagai contoh, berita tentang luas Pelabuhan Bungkutoko yang baru saja beroperasi.

Wartawan tidak cukup hanya dengan memberikan gambaran bahwa luasnya sekian hektar. Meskipun informasi satuan luas ini begitu populer, namun penyampaian informasi menjadi lebih efektif jika dibuatkan sebuah perbandingan.

Misalnya, “luas Pelabuhan Bungkutoko mencapai lima hektar. Lebih luas dari lima kali ukuran lapangan sepakbola”. Pembaca langsung tergiring untuk membayangkan seberapa luas pelabuhan itu dengan membayangkan lapangan sepakbola.

Ada banyak praktik perbandingan yang kerap dilakukan wartawan untuk memudahkan pembaca memahami data atau informasi dengan cepat. Itulah manfaat dari pemberian makna pada sebuah berita. What does it mean to me. Begitu kira-kira.***